Upacara Kenegaraan Dan Detik Detik Proklamasi Tingkat Kabupaten Pati Dipusatkan Di Kipan C Yonif 410/Alugoro

 

Pati – Dipusatkan di lapangan Kompi Senapan C Yonif 410 Alugoro, Upacara bendera Kenegaraan dan detik detik Proklamasi HUT Ke 74 Republik Indonesia tahun 2019 tingkat Kabupaten Pati dengan tema SDM UNGGUL INDONESIA MAJU . Sabtu 17/8/2019.

Kegiatan upacara dihadiri lebih kurang 8000 Orang diantaranya Forkopinda Kab Pati, Perwakilan anggota DPRD Kab Pati, Wakil Bupati Kab. pati, Kasdim.0718 pati, Wakapolres pati, Setda Kab. Pati, Dinas instansi terkait, Dan Kipan C Yonif 410 Augoro, Camat se Kab Pati, Angota Kodim 0718 pati, Anggota Polres Pati, Anggota Kipan C Yonif 410 Alugoro, Kades Kab. Pati, Tomas dan Toga dan Ormas Kab. Pati, Veteran Kab Pati, Tamu undangan yang hadir serta masyarakat Kab. Pati.
Pejabat upacara dalam detik detik Proklamasi ini antara lain Inspektur Upacara : Bupati Kab Pati ( H.HARYANTO SH.MM.MSi ), Komandan Upacara : Kasat lantas polres pati ( AKP KRISTIAN LOWOLONG.SIK.MH ), Perwira upacara : Pasi pers Kodim 0718 pati ( Kapten Cba INDRA WARMAN), Komandan Paskibraka : Pasi Ops Kodim.0718 pati ( Lettu Kav BUDI KARYADI).

Dalam kesempatan itu Inspektur Upacara Bupati Pati H. Haryanto, SH. MM, M.Si membacakan amanat dari Gubernur Jawa Tengah pada UPACARA PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH dan PERINGATAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN KE-74 REPUBLIK INDONESIA yang antara lain mengutip ungkapan Gus Dur, orang tak akan bertanya apa agamamu, apa sukumu ketika berbuat baik. Dalam masa perjuangan setelah kemerdekaan ini sudah semestinya kita tidak membedakan suku, agama atau pun ras. Tak peduli warna kulit, rambut, jenis kelamin, kaya atau pun miskin. Semua sama di mata negara. Founding fathers bangsa ini telah memberi contoh lewat laku, bukan sekadar gembar gembor persatuan. Mereka berdarah-darah menegakkan kemerdekaan.
Sebenarnya kita pun mewarisi semangat itu. Namun karena kadang kita memupuk borok dalam dada, membuat kita terlena hingga dengan rasa tanpa dosa saling menghina dan mencerca, bahkan ada yang nekad hendak mengganti Pancasila.Siapa yang mempermasalahkan Agustinus Adisucipto sebagai pahlawan? Apakah karena beliau seorang Katolik, lantas yang dari Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Kong Hu Chu.
Mengutip juga dari Albertus Soegijapranata. Beliau merupakan uskup pribumi pertama di Indonesia. Bahkan karena nasionalismenya keras, beliau tidak henti-hentinya mengagungkan semboyan “100% Katolik, 100% Indonesia” dan ungkapan itu terus berdengung hingga kini. Lantas mari kita tengok pahlawan dari Budha, yang merupakan saudara kita sendiri dari Banyumas, Letjen Gatot Subroto.Yang tidak kalah penting perannya dalam perjuangan adalah saudara-saudara kita dari
Mengutip juga dari pejuang Tionghoa Yap Tjwan Bing lahir pada 31 Oktober 1910 di Solo. Beliau merupakan satu-satunya anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari Tionghoa dan turut hadir dalam pengesahan UUD 1945 dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 18 Agustus 1945,Ada pula Liem Koen Hian merupakan salah satu anggota dari Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bahkan beliau jadi salah satu inspirator Bung Karno ketika pidato di majelis BPUPKI tentang berdirinya negara yang tanpa berasaskan ras maupun agama.Dan sepatutnya kita pun berterima kasih pada tokoh keturunan Arab, Faradj bin Said bin Awak Martak. Pedagang kelahiran Yaman Selatan ini dengan berani menyediakan rumahnya di Pegangsaan Timur No 56 sebagai lokasi proklamasi kemerdekaan RI.Lantas siapa yang mempermasalahkan kepahlawanannya I Gusti Ngurah Rai, Untung Suropati, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari karena agamanya? Bibit jiwa kita adalah bibit tepo sliro, bibit andarbeni, bibit paseduluran.
Pancasila sebagai dasar Negara Republik adalah harga mati. Tidak bisa ditawar dan harus kita tanam sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi. Pancasila inilah sebagai induk semangnya negara indonesaia,yang di dalamnya bersemayam ajaran-ajaran agama: Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kong Hu Chu dan Kristen. Yang di dalamnya bersemayam spirit-spirit berasaskan kebudayaan Nusantara. Kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, toh akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan.

Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 sistem pemerintahan sempat berganti menjadi Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949. Namun akhirnya sejak 17 Agustus 1950 Tanah Air ini kembali tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sampai kapan? Seperti ungkapan Bung Karno, “Di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia yang kekal dan abadi.”Bung Karno mengatakan, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan.
Diakhir upacara Bupati Pati menyampaikan tahun ini Upacara Kemerdekaan dilaksanakan tidak seperti tahun tahun yang lalu.
” Biasanya upacara kita laksanakan di alun alun Pati, akan tetapi kali ini kita laksanakan di lapangan Kompi Senapan C 410 Alugoro karena alun alun Pati masih tahap renovasi,” Ungkap Haryanto.

Selesai Upacara Bendera Kenegaraan dan Detik Detik Proklamasi HUT ke 74 Kemerdekaan Republik Indonesia dilanjutkan penyerangan tali asih kepada Veteran dan penyerahan piagam lomba desa serta penyerahan piagam pelajar berprestasi. (pdmpati)

Author:
Tags

Similar posts

Masukkan Komentar Anda :